Senin, 01 Agustus 2022

Kodai Naraoka, Si Bocah Ajaib Jepang dan Calon Raja Tunggal Putra Baru di Panggung BWF

Kodai Naraoka, Si Bocah Ajaib Jepang dan Calon Raja Tunggal Putra Baru di Panggung BWF

Kodai Naraoka, Si Bocah Ajaib Jepang dan Calon Raja Tunggal Putra Baru di Panggung BWF


Profil singkat serta prestasi Kodai Naraoka, si bocah ajaib asal Jepang yang diprediksi bakal jadi calon raja tunggal putra baru di panggung BWF.



Sepanjang tahun 2022 ini, panggung bulutangkis dunia memang sukses hadirkan berbagai kejutan terutama dalam kejuaran BWF World Tour yang sudah memainkan 16 pertandingan.



Dari wakil Indonesia misalnya, sang ganda putri baru yakni Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva Ramadhanti berhasil jadi sorotan usai beberapa kali naik podium.



Meski baru dipasangkan, namun Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva Ramadhanti berhasil juara di Malaysia Open dan Singapore Open, serta menjadi runner up di ajang Indonesia Masters.



Tak hanya sektor ganda putri milik Indonesia, nomor tunggal putra juga berhasil membuat kejutan sepanjang gelaran BWF World Tour kali ini.



Tercatat ada tiga wakil Indonesia di nomor perorangan putra yang mampu naik ke podium juara, yakni Chico Aura Dwi Wardoyo, Anthony Sinisuka Ginting serta Jonatan Christie.



Selain dari Indonesia, beberapa tunggal putra negara lain juga ada yang catatkan prestasi menteng sepanjang gelaran BWF World Tour 2022.



Salah satunya adalah Kodai Naraoka, tunggal putra Jepang yang berhasil jadi sorotan lewat penampilan impresifnya di sejumlah event BWF World Tour.



Meski belum pernah juara, namun Kodai Naraoka sempat tiga kali melangkah ke partai final yakni di ajang Korea Masters, Singapore Open serta Taipei Open.



Bahkan setelah gelaran Taipei Open 2022 kemarin, Kodai Naraoka yang kalah dari Chou Tien-chen di partai final tetap mendapat pujian dari para badminton lovers.




Untuk lebih mengenal sosok Kodai Naraoka yang jadi sensasi sepanjang BWF World Tour 2022, berikut profil singkat sang tunggal putra asal Jepang tersebut:


Profil Kodai Naraoka



Lahir di Aomori, Jepang, karier bulutangkis Kodai Naraoka telah dimulai saat usianya masih lima tahun dan dilatih sendiri oleh sang ayah.



Di usia 16 tahun, Kodai Naraoka tampil mewakili Jepang dalam kejuaraan BWF World Junior Championships dan berhasil melangkah hingga babak semifinal.



Sepanjang gelaran BWF World Junior Championships, Kodai Naraoka berhasil mengalahkan sejumlah tunggal putra muda yang kini jadi unggulan, salah satunya adalah Lakshya Sen asal India.



Pada tahun 2018, Kodai Naraoka kembali tampil di ajang BWF World Junior Championships dan menorehkan prestasi yang jauh lebih baik dari edisi sebelumnya.



Meski berstatus non unggulan, namun Kodai Naraoka sukses melangkah ke partai final dengan mengalahkan sejumlah tunggal putra top seperti Jason Teh, Ng Tze Yong hingga Li Shifeng.



Sayangnya di partai final, Kodai Naraoka gagal menjadi juara setelah dikalahkan Kunlavut Vitidsarn yang merupakan unggulan pertama dengan skor 21-9 dan 21-11.



Usai tampil di BWF World Junior Championships, kiprah Kodai Naraoka semakin bersinar usai catatkan beberapa gelar juara di panggung BWF International Challenge.



Tercatat, ada lima gelar juara yang berhasil dimenangkan Kodai Naraoka serta dua kali menjadi runner up sepanjang tahun 2018 hingga 2019 lalu.



Kemenangan di ajang Mongolia International tampaknya jadi yang paling berkesan buat Kodai Naraoka, lantaran pada turnamen tersebut dirinya menang atas Kunlavut Vitidsarn, tunggal putra Thailand yang pernah mengalahkannya di final BWF World Junior Championships.



Selain itu, gelar Jamaica International 2019 juga jadi prestasi tersendiri buat Kodai Naraoka, lantaran di partai final dirinya mampu mengalahkan Kevin Cordon, tunggal putra asal Guatemala yang sempat buat kejutan di Olimpiade 2020.


Peringkat BWF



Berbekal tiga kali runner up di BWF World Tour 2022, membuat peringkat Kodai Naraoka melejit ke urutan 14 ranking BWF World Tour.



Peringkat tersebut merupakan yang tertinggi dari seluruh wakil tunggal putra Jepang di ajang BWF World Tour 2022 kali ini.




Bahkan, Kodai Naraoka mampu mengungguli peringkat Kento Momota yang saat ini bertengger di urutan kedua BWF World Rankings.



Hingga gelaran Taipei Open 2022, Kento Momota hanya bisa berada di peringkat 20 dengan perolehan 26,440 poin.



Meski masih berusia 21 tahun, namun Kodai Naraoka sudah dipercaya Timnas Jepang untuk tampil di sejumlah event besar mulai dari Thomas Cup pada tahun 2020 dan 2022.



Serta ikut ambil bagian saat Timnas Jepang meraih medali Perunggu di ajang Asia Team Championships di Manila tahun 2020 lalu.



Berkat sederet prestasi serta pengalaman tersebut, Kodai Naraoka pun diprediksi bakal jadi tumpuan baru tunggal putra Jepang sekaligus penerus tongkat estafet Kento Momota di panggung BWF.

Minggu, 31 Juli 2022

Hebat! Cabor Bulutangkis Sumbang Emas Pertama untuk Indonesia di ASEAN Para Games 2022

Hebat! Cabor Bulutangkis Sumbang Emas Pertama untuk Indonesia di ASEAN Para Games 2022

Hebat! Cabor Bulutangkis Sumbang Emas Pertama untuk Indonesia di ASEAN Para Games 2022


Kontingen Indonesia sukses mendapatkan emas pertamanya di ASEAN Para Games 2022 dari cabang Para Bulutangkis kelompok regu beregu putra SUS setelah menaklukkan Thailand.


Sekadar isu, ASEAN Para Games merupakan pesta olahraga dua tahunan untuk para atlet penyandang disabilitas di Asia Tenggara.


Pada edisi ASEAN Para Games 2022 ini, Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah menggantikan Vietnam yang membatalkan sebelumnya. Hajatan akbar ini berlangsung di Solo pada 30 Juli-6 Agustus 2022.


Pada Pekan (31/07/22), tim beregu putra Para Bulutangkis Indonesia sukses menyajikan emas perdana untuk Indonesia di ajang ini.


Kesukseksan ini diraih oleh regu putra para bulutangkis Indonesia usai memenangkan dua perlombaan yang berlangsung Minggu (31/07/22) kemarin, dengan mengalahkan Vietnam 3-0 dan Thailand 3-0.

Sementara itu, Thailand sepatutnya puas dengan meraih medali perak, meski Vietnam berada di posisi juru kunci dan tidak mendapatkan medali.


Gelar hal yang demikian dipastikan via ganda putra Indonesia yang turun di perlombaan kedua melawan Thailand. Adalah Hafizh Briliansyah Prawiranegara (SU5) Harry Susanto (SL4).


Tampil pada partai kedua, mereka tanpa kesulitan mampu menaklukkan ganda putra Thailand, Chok-Uthaikul Watcharaphon/Teamarrom Siripong dua game segera 21-13, 21-13.


Harry Susanto mengucapkan bahwa saat menaklukkan pasangan Thailand, mereka sempat main terburu-buru sehingga membikin mereka sempat tertinggal.


Tetapi kemudian, Hafizh/Harry mulai bermain lebih tabah demi dapat menyapu bersih dua set dengan kemenangan sekalian memutuskan medali emas di tangan mereka.


Kunci Raih Emas, Main Tanpa Beban

“Untuk gim kedua agak terburu-buru, pengen cepet selesai, jadi sempat tertinggal,” ungkap Harry diinfokan web PB Djarum.


“Sebab tadi mau banget menang, jadi di partai kedua kita berusaha ambil,” sahut Hafizh di tempat yang sama.


“Medali ini untuk pemerintah, terutamanya Presiden Jokowi. kemudian, Bapak Menpora, Ketua NPC (Shenny Marbun) beserta jajarannya, dan tak lupa kepada keluarga, buah hati, istri, orang tua, serta masyarakat Indonesia,” terang Hafizh.

Harry/Hafizh

Sebagai penentu di nomor beregu, dikatakan Harry/Hafizh keduanya merasa sedikit ada muatan. Tetapi hal tersbut bisa dipecahkan oleh keduanya.


“Beban pasti ada, apalagi di partai penentu. Tetapi kapan lagi kesempatan ini. Metode mengatasinya ya rilex saja, jaga konsentrasi. Tapi tadi di game kedua sempat terburu-buru berharap menghabisi, tetapi akhirnya enggak abis-abis, lawan sempat naik lagi,” tutur Harry.


Ini adalah medali emas pertama sekalian yang kedua yang diamankan Indonesia. Sebelumnya, Indonesia sanggup mengamankan medali perunggu dari regu basket Indonesia yang berlaga di cabor basket kursi roda pada Minggu kemarin. 


Rekap Hasil Tim Putra Bulutangkis Indonesia di ASEAN Para Games 2022

Berikut rekap hasil pertandinigan tim beregu putra Indonesia di nomor beregu:


Indonesia vs Vietnam:

Fredy Setiawan vs Ta Truc 21-10 21-11

Hafizh Briliansyah Prawiranegara/Ukun Rukaendi vs Bui Minh Hai/Nguyen Van Thuong 21-5 21-13

Suryo Nugroho vs Van Anh Tuan 21-10 21-11


Indonesia vs Thailand:

Fredy Setiawan vs Kitichokwattana Chawarat 21-19 21-12

Hafizh Briliansyah Prawiranegara/Hary Susanto vs Chok-Uthaikul Watcharaphon/Teamarrom Siripong 21-13 21-13

Dheva Anrimusthi vs Somsiri Pricha 21-4 21-8


Sumber : https://www.indosport.com/raket/20220801/hebat-cabor-bulutangkis-sumbang-emas-pertama-untuk-indonesia-di-asean-para-games-2022/rekap-hasil-tim-putra-bulutangkis-indonesia-di-asean-para-games-2022

3 Rekor Taufik Hidayat yang Sulit Dipatahkan, Jonatan dan Ginting Belum Sepadan?

3 Rekor Taufik Hidayat yang Sulit Dipatahkan, Jonatan dan Ginting Belum Sepadan?

3 Rekor Taufik Hidayat yang Sulit Dipatahkan, Jonatan dan Ginting Belum Sepadan?


Ada tiga rekor yang dicatatkan oleh pebulutangkis legendaris Indonesia, Taufik Hidayat. Jonatan Christie dan Anthony Ginting malah belum setara.


Dengan pencapaiannya di masa lalu, wajar jika Taufik Hidayat kerap kali mengkritisi sektor tunggal putra Indonesia. Dia memiliki kiprah yang luar biasa ketika masih menjadi atlet.


Sayangnya, Taufik Hidayat menetapkan untuk kencang pensiun. Ia gantung raket di umur 32 tahun, pada 16 Juni 2013 silam.


Walaupun demikian, Taufik telah mengukirkan banyak rekor pribadi, yang hingga ketika ini, hampir satu dekade berlalu, tapi belum ada yang dapat mematahkan rekornya.



Berikut tiga rekor milik Taufik Hidayat yang susah dipatahkan.


1. Jawara Indonesia Open Terbanyak

Taufik Hidayat hingga sekarang masih menjadi pemain yang mengoleksi gelar Indonesia Open terbanyak. Ia memenangkan gelanggang bergengsi hal yang demikian sebanyak enam kali.


Taufik Hidayat sukses menjuarai Indonesia Open edisi tahun 1999, 2000, 2002, 2003, 2004, dan 2006. Hingga sekarang, belum ada pemain yang dapat menyalip rekor Taufik.


Di era yang sama, ada satu pemain yang juga mengoleksi enam gelar di Indonesia Open, adalah Lee Chong Wei (Malaysia), tahun 2007, 2009, 2010, 2011, 2013, 2016.


Memang, sebelumnya ada satu pemain bulutangkis yang mengoleksi enam gelar Indonesia Open, yaitu Ardy B. Wiranata. Cuma saja, dia sudah lama gantung raket


2. Rekor Backhand Tercepat

Taufik Hidayat mempunyai kecakapan yang sulit untuk dicontoh oleh para pebulutangkis lainnya, yakni smash backhand yang kuat.


Kalau biasanya pebulutangkis memakai pukulan forehand sebagai andalan, namun Taufik Hidayat memiliki pukulan backhand yang juga kuat dan bisa mengecoh lawan.


Kalau dalam keadaan forehand saja, tenaga smash tak senantiasa kuat, tapi beda halnya dengan Taufik Hidayat yang bisa mengerjakan smash pesat dengan posisi backhand.


Pada satu peluang, pemain kelahiran Bandung itu menjalankan pukulan backhand dan mencatatkan rekor tercepat, adalah 260 kilometer per jam. Catatan yang luar umum.


Akibatnya, Taufik Hidayat juga menerima julukan sebagai King of Backhand.


3. Peringkat 1 Dunia Termuda

Dengan kualitasnya di lapangan, wajar jika Taufik Hidayat pernah menduduki peringkat satu dunia di sektor tunggal putra.


Namun, sulit untuk membayangkan Taufik Hidayat dapat menggapai prestasi tertinggi itu di usianya yang sungguh-sungguh muda, adalah 19 tahun, tepatnya pada tahun 2000 silam.


Prestasi itu diraih sesudah Taufik Hidayat memenangkan sejumlah gelar beruntun, mulai dari Malaysia Open, Kejuaraan Asia, Indonesia Open, dan runner-up All England.


Seandainya mengamati generasi sebelumnya, para pebulutangkis tunggal putra Indonesia memang langganan jadi peringkat satu dunia.


Ucap saja Alan Budikusuma, Liem Swie King, dan Hariyanto Arbi, para pendahulu yang menginspirasi Taufik Hidayat, sampai alhasil bisa meraih posisi tertinggi dunia.


Jonatan dan Ginting Belum Setara


Sesudah Taufik Hidayat memastikan pensiun, belum ada lagi pebulutangkis tunggal putra Indonesia yang tetap meraih gelar dan menghuni peringkat atas.


Dikala ini, Jonatan Christie masih mentok di peringkat delapan. Capaian tertingginya merupakan saat jadi nomor empat dunia, pada tahun 2019 silam, ketika berusia 22 tahun.


Sementara Anthony Sinisuka Ginting juga kehilangan momentum dan jatuh ke posisi enam dalam urutan tunggal putra dunia. 


Anthony Sinisuka Ginting pernah menjadi top 3 tunggal putra dunia, tepatnya di tahun 2020 lalu, ketika dia masih berusia 23 tahun.


Sumber : https://www.indosport.com/raket/20220731/3-rekor-taufik-hidayat-yang-sulit-dipatahkan-jonatan-dan-ginting-belum-sepadan/jonatan-dan-ginting-belum-sepadan

Mulai Terbongkar! Chiharu Shida Kepincut Pebulutangkis Indonesia, Bukan Marcus/Kevin atau Fajar/Rian

 Mulai Terbongkar! Chiharu Shida Kepincut Pebulutangkis Indonesia, Bukan Marcus/Kevin atau Fajar/Rian

 Mulai Terbongkar! Chiharu Shida Kepincut Pebulutangkis Indonesia, Bukan Marcus/Kevin atau Fajar/Rian


Bidadari bulutangkis Jepang Chiharu Shida dikabarkan kepincut dengan pemain Indonesia. Tapi, sosok itu bukan Marcus/Kevin maupun Fajar/Rian.

Chiharu Shida diinformasikan tengah menjadi sorotan bagi publik Indonesia sebab isu kedekatannya dengan pebulutangkis tanah air.


Chiharu Shida sendiri mendapatkan sematan ‘bidadari’ oleh para pecinta bulutangkis Tanah Air. Dia mempunyai tinggi badan 162cm dan disebut-sebut adalah tinggi yang proporsional bagi seorang atlet bulutangkis.



Bakat Chiharu Shida sudah mulai tercium semenjak umur dini. Terus berlatih dan memacu kesanggupan kemudian membuat Shida menjelma menjadi pemain bulutangkis yang gemilang.

Chiharu Shidar selama menjadi pemain junior telah berhasil meraih medali perunggu di arena Asia dan Worl Junior Championship.

Hebatnya, medali hal yang demikian disabet Shida dua tahun beruntun pada edisi 2014 dan 2015 yang lalu.


Lebihnya lagi, semenjak dipasangkan dengan Nami Matsuyama, Chiharu Shida kian mentereng dengan pelbagai gelar termasuk menyabet gelar kampiun di Vietnam International edisi 2016.

Duet apik Chiharu Shida/Nami Matsuyatam kemudian mengantarkan mereka ke Piala Uber 2020, Indonesia Masters 2021.

Atas torehan hal yang demikian, Chiharu Sida/Nami Matsuyama pun kini menduduki ranking 5 uni dengan koleksi 99.343 skor.

sumber:https://www.indosport.com/sportainment/20220730/mulai-terbongkar-chiharu-shida-kepincut-pebulutangkis-indonesia-bukan-marcus-kevin-atau-fajar-rian?utm_source=dable

Kamis, 28 Juli 2022

Daftar Atlet Indonesia di Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2022: Minions Comeback, Fadia Duet Lagi dengan Ribka

 Daftar Atlet Indonesia di Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2022: Minions Comeback, Fadia Duet Lagi dengan Ribka

 Daftar Atlet Indonesia di Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2022: Minions Comeback, Fadia Duet Lagi dengan Ribka


Pebulutangkis Indonesia akan bertarung di Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2022 yang akan digelar di Tokyo, Jepang.

Ini yaitu arena bergengsi tahunan yang digelar oleh BWF dan termasuk major events. 

Pemain Indonesia, terlebih yang bernaungan di bawah Pelatnas, pada edisi tahun lalu tak berpartisipasi karena wabah COVID-19.



Melainkan, tahun ini, mereka akan kembali, termasuk ganda putra Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Gideon yang tidak hadir dua bulan lantaran Marcus dalam pemulihan pasca-operasi.

Total Energies BWF Championships 2022 atau Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2022 akan dilangsungkan di Jepang pada 22-28 Agustus 2022. Indonesia akan menerjunkan atlet-atlet terbaiknya.

sumber:https://www.bola.com/ragam/read/5026293/daftar-atlet-indonesia-di-kejuaraan-dunia-bulutangkis-2022-minions-comeback-fadia-duet-lagi-dengan-ribka

Bikin Tidak Tabah, Olimpiade Paris 2024 Rilis Tanggal Kerja Cabor Bulutangkis

Bikin Tidak Tabah, Olimpiade Paris 2024 Rilis Tanggal Kerja Cabor Bulutangkis

Bikin Tidak Tabah, Olimpiade Paris 2024 Rilis Tanggal Kerja Cabor Bulutangkis


Setelah ditunggu-tunggu, akhirnya pihak komite Olimpiade merilis tanggal legal proses cabor bulutangkis di Olimpiade Paris 2024.


Sebagaimana diketahui kancah Olimpiade Paris 2024 bakal resmi digelar pada 26 Juli hingga 11 Agustus 2024 akan datang.


Meskipun gelanggang Olimpiade Paris 2024 masih akan berlangsung dua tahun lagi, tapi para atlet dan federasi olahraga berkaitan masih terus mempersiapkan diri demi bisa unjuk gigi di ajang pesta olahraga terbesar di dunia hal yang demikian.


Selain itu, umumnya terdapat sejumlah cabang olahraga tertentu yang berlangsung lebih dahulu sebelum acara pembukaan.

Olimpiade Paris 2024

Namun untuk cabor bulutangkis sendiri aka berlangsung pada 27 Juli sampai 5 Agustus 2024 mendatang.


Dalam cuitannya, cabor bulutangkis akan digelar di sebuah kancah baru yang berlokasi di kawasan utara Paris, Prancis atau lebih tepatnya di Kancah Porte de La Chapelle dan berkapasitas 8 ribu penonton.


Walaupun demikian venue tersebut masih terus digenjot pelaksanaan pembangunannya, agar bisa rampung pas waktu dengan segala fasilitas pensupportnya.


Kemudia setidaknya terdapat sebanyak 172 atlet dari berjenis-jenis penjuru dunia akan tampil di Porte de La Chapelle.


Tentunya para pebulutangkis semestinya melewati kualifikasi pada 2023 agar bisa tampil di Olimpiade Paris 2024 akan datang.


Jadwal Kualifikasi Olimpiade Paris 2024

Website BWF sendiri sudah mengonfrimasi jadwal kualifikasi menuju Olimpiade Paris 2024 akan datang.


Progres kualifikasi sendiri bakal mulai berlangsung pada 1 Mei 2023 hingga 28 April 2024 atau tiga bulan sebelum dibukanya pesta olahraga terbesar di dunia itu.


Nantinya para pebulutangkis di dunia akan diperhitungkan pada setiap turnamennya dan bakal diurutkan sesuai ranking Race to Paris 2024.


Selain itu setiap negara cuma boleh mengirimkan dua wakilnya di lima nomor di pertandingkan. Di sektor tunggal setidaknya kedua wakil sepatutnya berada di ranking 16 besar.


Sementara untuk sektor ganda setidaknya dua wakilnya sepatutnya masuk dalam posisi 8 besar di ranking Race to Tokyo 2024.


Maka kualifikasi menuju Olimpiade Paris 2024 malahan bakal berlangsung menarik sebab pebulutangkis papan atas dunia akan saling bersaing ketat demi meraih tiket emas tersebut.


The Daddies Masih Mau Turut Olimpiade Paris 2024


Sebagaimana diketahui, Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan adalah pebulutangkis paling senior di skuat Indonesia. Ahsan kini berusia 34 tahun, dan Hendra kini 37 tahun.


Jikalau memaksakan bermain di Olimpiade Paris 2024, diprediksi Ahsan akan menempuh usia 36 tahun, padahal Hendra Setiawan justru hampir mencapai umur 40 tahun.


Sumber : https://www.indosport.com/raket/20220729/bikin-tak-sabar-olimpiade-paris-2024-rilis-tanggal-pelaksanaan-cabor-bulutangkis/the-daddies-masih-ingin-ikut-olimpiade-paris-2024

Rabu, 27 Juli 2022

BWF Mulai Pulihkan Ranking Dunia Minggu Depan dan Dampaknya buat Pemain Indonesia

BWF Mulai Pulihkan Ranking Dunia Minggu Depan dan Dampaknya buat Pemain Indonesia

BWF Mulai Pulihkan Ranking Dunia Minggu Depan dan Dampaknya buat Pemain Indonesia


BWF (Federasi Bulu Tangkis Dunia) akan mengawali pemulihan ranking dunia yang sempat dibekukan pengaruh pandemi Covid-19.


Penghitungan ranking dunia BWF masih belum pantas dengan peraturan autentik sampai sekarang.


Rentetan pembatalan turnamen dan penguasaan yang mengganggu partisipasi atlet memaksa BWF mengerem perubahan pada daftar yang menjadi tolok ukur daya pemain.


Sebagai isu, normalnya ranking mengukur tingkatan pemain berdasarkan daya kerja mereka selama kurang lebih setahun terakhir, tepatnya 52 pekan.


Adapun pada penyesuaian yang berlangsung sejak Februari 2021, poin dari turnamen pada Maret 2019 masih masuk dalam hitungan sebagai kompensasi.

BWF

Tentunya ada kerugian yang wajib dibayar dari pembekuan ranking secara parsial, adalah tak terwakilinya peta tenaga terbaru secara penuh.


Dan, sayangnya, posisi Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo, sebagai pasangan nomor ganda putra ialah salah satu misalnya.


Keberhasilan Marcus/Kevin bertahan di peringkat satu walau jarang tampil sebab cedera tertolong oleh pembekuan peringkat.


Tujuh dari 10 nilai terbaik yang masuk akumulasi nilai ranking Minions berasal dari turnamen-turnamen sebelum tahun 2021.


Menurut data yang dihimpun BadmintonStatistics.net, Marcus/Kevin akan turun ke peringkat dua jika penghitungan ranking normal yang diaplikasikan.


Marcus/Kevin digusur pasangan Jepang, Takuro Hoki/Yugo Kobayashi, yang menjuarai enam turnamen dalam 52 minggu terakhir.


Adapun figur kasus yang merugikan Indonesia yaitu bagaimana ranking pasangan ganda putri baru, Apriyani Rahayu/Siti Fadia Silva Ramadhanti, sepatutnya lebih bagus.


Catatan 2 gelar, dan 3 kali lolos ke final, dalam 5 turnamen pertama sejatinya cukup untuk membawa PriFad menembus 30 besar sehingga menjamin partisipasi mereka di turnamen besar.


Apriyani/Fadia sendiri masih terbendung di peringkat 42 dunia pada minggu ini sementara cuma di 7 turnamen pertama saja posisi mereka dalam turnamen "dikatrol" menurut pencapaian dengan pasangan lama.


Untungnya, makin pulihnya persaingan membuka jalan bagi BWF untuk mengawali transisi menuju ranking normal.


Dalam rilis resmi di BWFBadminton.com, penyesuian baru akan diaplikasikan mulai pekan depan ialah Selasa, 2 Agustus 2022.


Peniadaan poin turnamen-turnamen lama dikerjakan secara berjenjang hingga akibatnya hanya 52 minggu terbaru yang masuk hitungan.


Masa transisi direncanakan selesai pada 3 Januari 2023.


"Dengan stabilnya kalender turnamen Grade 1 dan World Tour untuk sisa tahun 2022 dan bertambahnya jumlah turnamen Grade 3 yang direncanakan digelar di sebagian besar benua menuju 2023, kita berada di tahap ketika imbas dari penghapusan poin ranking lama diminimalkan," kata Sekretaris Jenderal BWF, Thomas Lund.


"Poin yang akan didapatkan ketika ini cukup kuat untuk menunjang sebuah peringkat 52 pekan yang aktual pada permulaan 2023."


"Yang penting, asosiasi-asosiasi member kami memiliki pemberitahuan yang cukup untuk mempersiapkan jangka waktu transisi dan membikin rencana yang tepat sasaran untuk jangka waktu kualifikasi Olimpiade Paris 2024 dan turnamen-turnamen penting lainnya."


BWF akan menghapus skor ranking dari empat minggu terlama dimulai dari minggu ke-12 dari tahun 2019 pada pembaruan berikutnya.


Peniadaan skor ranking dari empat minggu terlama terus berlanjut sampai pembaruan untuk minggu ke-1 tahun 2023.


Artinya, masih ada kesempatan bagi pemain yang terancam turun ranking seperti Marcus/Kevin untuk mempertahankan posisinya asalkan tampil bagus di sisa tahun.


Sementara bagi pemain yang sedang daun seperti Apriyani/Fadia, menjaga konsistensi menjadi kunci untuk merebut posisi "sejati" atau justru memperbaikinya.


Seperti yang telah dibeberkan, ranking bukan semata-mata soal gengsi.


Ranking dunia juga menetapkan peluang kelolosan pemain ke dalam turnamen hingga posisi dalam drawing alias bagan laga.


Tunggal Putra

Viktor Axelsen (Denmark)

1. Viktor Axelsen (Denmark) - 121.606

2. Kento Momota (Jepang) - 112.704

3. Anders Antonsen (Denmark) - 98.300

4. Chou Tien Chen (Chinese Taipei) - 93.776

5. Lee Zii Jia (Malaysia) - 91.578

6. Anthony Sinisuka Ginting (Indonesia) - 89.549

7. Jonatan Christie (Indonesia) - 82.812 ▲1

8. Chen Long (China) - 80.090 ▼1

9. Loh Kean Yew (Singapura) - 79.594

10. Lakshya Sen (India) - 75.874


Tunggal Putri

Akane Yamaguchi (Jepang)

1. Akane Yamaguchi (Jepang) - 111.813 (111.963)

2. Tai Tzu Ying (Taiwan) - 110.845 (111.645)

3. An Se-young (Korea Selatan) - 104.403

4. Chen Yu Fei (China) - 103.606

5. Carolina Marin (Spanyol) - 100.380

6. Nozomi Okuhara (Jepang) - 95.960

7. Pusarla Venkata Sindhu (India) - 95.518

8. Ratchanok Intanon (Thailand) - 89.349

9. He Bing Jiao (China) - 82.264

10. Pornpawee Chochuwong (Thailand) - 78.265


Ganda Putra

Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo (Indonesia)

1. Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo (Indonesia) - 111.827

2. Takuro Hoki/Yugo Kobayashi (Jepang) - 107.650

3. Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan (Indonesia) - 104.195

4. Lee Yang/Wang Chi Lin (Taiwan) - 99.468 (101.668)

5. Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto (Indonesia) - 86.855

6. Aaron Chia/Soh Wooi Yik (Malaysia) - 85.028

7. Satwiksairaj Rankireddy/Chirag Shetty (India) - 80.016 ▲1

8. Takeshi Kamura/Keigo Sonoda (Jepang) - 78.973 ▼1

9. Kim Astrup/Anders Skaarup Rasmussen (Denmark) - 76.819

10. Ong Yew Sin/Teo Ee Yi (Malaysia) - 72.490


Ganda Putri

Chen Qing Chen/Jia Yi Fan (China)

1. Chen Qing Chen/Jia Yi Fan (China) - 108.666

2. Yuki Fukushima/Sayaka Hirota (Jepang) - 104.691

3. Lee So-hee/Shin Seung-chan (Korea Selatan) - 103.680

4. Kim So-yeong/Kong Hee-yong (Korea Selatan) - 103.125

5. Nami Matsuyama/Chiharu Shida (Jepang) - 99.343

6. Mayu Matsumoto/Wakana Nagahara (Jepang) - 96.283

7. Greysia Polii/Apriyani Rahayu (Indonesia) - 93.775

8. Jongkolphan Kititharakul/Rawinda Prajongjai (Thailand) - 79.577

9. Gabriela Stoeva/Stefani Stoeva (Bulgaria) - 71.250

10. Jeong Na-eun/Kim Hye-jong (Korea Selatan) - 67.887


Ganda Campuran

Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong (China)

1. Zheng Si Wei/Huang Ya Qiong (China) - 116.102 (117.902)

2. Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai (Thailand) - 115.400

3. Yuta Watanabe/Arisha Higashino (Jepang) - 108.097

4. Wang Yi Lyu/Huang Dong Ping (China) - 106.667

5. Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti (Indonesia) - 95.149

6. Seo Seung-jae/Chae Yu-jung (Korea Selatan) - 82.700

7. Tan Chun Man/Tse Ying Suet (Hong Kong) - 78.250

8. Chan Peng Soon/Goh Liu Ying (Malaysia) - 73.320

9. Thom Gicquel/Delphine Delrue (Prancis) - 72.132 ▲1

10. Marcus Ellis/Lauren Smith (Inggris) - 72.420 ▲1


Sumber : https://www.bolasport.com/read/313396819/bwf-mulai-pulihkan-ranking-dunia-pekan-depan-dan-dampaknya-buat-pemain-indonesia